Untuk kamu

Untuk kamu yang aku damba,
Bersinarlah seperti mentari.
Yang memberi kehangatan di muka bumi.
Yang memberi semangat pada semua orang

Untuk kamu yang aku sayang,
Tersenyumlah seperti anak kecil,
Yang masih polos dan optimis
Yang masih tulus tanpa topeng

Untuk kamu yang aku rindu,
Hiduplah seperti burung
Yang selalu terbang bebas
Yang selalu berjuang keras

Untuk kamu yang aku cinta,
Bahagialah melebihi semua orang di bumi
Bersinarlah setiap saat
Tersenyumlah setiap hari
Hiduplah setiap waktu

Untuk kamu yang aku damba,
Untuk kamu yang aku sayang,
Untuk kamu yang aku rindu,
Untuk kamu yang aku cinta,


Janganlah kamu bersedih
Janganlah kamu berputus asa
Janganlah kamu menyerah

Karena aku akan selalu membantumu
Karena aku akan selalu mendampingimu
Karena aku akan selalu mendambamu
Karena aku akan selalu menyayangimu
Karena aku akan selalu merindukanmu
Karena aku akan selalu mencintaimu

Inspirasi

Aku tak punya inspirasi lagi
Untuk sekedar merangkai kata
Untuk sekedar berbicara
Untuk sekedar mencoret lembaran kertas
Karena aku mulai kehilangan emosiku
Karena aku mulai kehilangan diriku
Karena aku mulai kehilangan kamu
Semua optimisme itu
Semua idealisme itu
Semua mimpi itu
Hilang perlahan
Luruh bersama jasadmu yang telah dipeluk tanah
Menghilang bersama kehadiranmu yang telah tiada
Hancur bersama kepergianmu
Kini aku hanya bisa menatap kosong masa depan
Masa depan yang hanya akan jadi lembaran kosong baru
Membungkus cahaya kehidupanku

Hanya kamu

Aku menutup mata dan menghela napas
Menyerah pada ekspresi emosi berupa air mata
Entah berapa banyak tisu yang kuhabiskan
Entah berapa lama waktu yang kusiakan
Aku tidak peduli
Di sini hanya ada aku dan kenanganku
Kenanganku tentang kamu
Kamu yang lucu
Kamu yang jahil
Kamu yang tersenyum
Kamu yang melindungiku
Kamu yang telah Tuhan rebut dariku
Lagi- lagi aliran air asin terpompa dari kelenjar air mataku
Rasa lengket di wajah tak bisa kurasakan lagi
Aku tidak peduli semua rasa tidak nyaman itu
Yang aku butuhkan cuma kamu
Aku tidak butuh barang mewah
Aku tidak butuh tubuh semu ini
Aku tidak butuh Tuhan
Aku hanya butuh Kamu

Singing...

Aku merangkai kata di atas kertas. Berbalutkan tinta dan disusun dengan melodi. Tersampaikan lewat bibir oleh suara. Terapresiasikan karena telinga.

Aku tak percaya lagi
Dengan apa yang kau beri
Aku terdampar di sini
Tersudut menunggu mati
Aku tak percaya lagi
Akan guna matahari
Dengan mampu menerangi
Sudut gelap hati ini
Aku berhenti berharap
Dan menunggu datang gelap
Sampai nanti suatu saat
Tak ada cinta kudapat
Kenapa ada derita
Bila bahagia tercipta
Kenapa ada sang hitam
Bila putih menyenangkan...

Aku pulang...
Tanpa dendam
Kuterima.. kekalahanku
Aku pulang...
Tanpa dendam
Kusalutkan.. kemenanganmu


Kau ajarkan aku bahagia
Kau ajarkan aku derita
Kau tunjukkan aku bahagia
Kau tunjukkan aku derita
Kau berikan aku bahagia
Kau berikan aku derita

Aku berhenti berharap dan menunggu datang gelap. Hingga nanti suatu saat tak ada cinta kudapat.
Hingga nanti nyanyianku tak mampu lagi menggerakkan hati.
Hingga nanti suaraku tak mampu lagi keluar.
Hingga nanti aku mati.

Kekuasaan

Dan ketika manusia mulai terhanyut dengan benda semu bernama kekuasaan, mereka akan kehilangan kemanusiaannya. Sedikit demi sedikit. Semua kasih, peduli, cinta, sayang, dan kasihan akan terganti oleh kebencian. Menyunggingkan tawa palsu. Menanamkan kemunafikan. Menghancurkan idealisme. Pelan hati mereka menjadi sekeras berlian. Ketegaan makin merajalela. Intrik- intrik membesar. Meninggalkan sebuah kekosongan bernama tirani. Butakan mata, tulikan telinga, matikan hati. Yang tersisa hanya kediktatoran. Rasa ingin terus berkuasa dan memerintah. Mengabaikan semua jeritan, tangis, dan penderitaan orang lain. Pandangan mereka hanya tertuju ke depan. Masa depan. Masa depan mereka. Masa depan kerakusan mereka. Masa depan kekuasaan mereka.

Hanya Cerita

Kumpulan titik membentuk garis. Garis membuat huruf. Dari huruf menjadi kata. Utaian kata membentuk kalimat hingga terciptalah sebuah cerita. Kumpulan dari titik, garis, huruf, kata, dan kalimat bernama cerita. Sebuah kisah yang terus terpublikasikan dari generasi ke generasi. Dari waktu ke waktu. Tak lekang oleh zaman. Menjadi kunci penting dunia. Dia bertutur tentang sejarah. Dia berpetuah tentang kisah hidup. Dia mendongeng tentang petualangan para pengembara. Dia adalah cerita. Salah satu aspek penting dunia. Mendominasi hampir tiap kehidupan di bumi.

Hilang

Aku kehilangan kata- kata.
Aku kehilangan suara
Aku kehilangan logika
Aku kehilangan cinta
Aku kehilangan kamu